Yunianto Tri Atmojo

Let\’s change for the better future!

Menalar Tuhan

Meneruskan tulisan tentang anak-anak muda kita yang atheis, saya ingin mengungkapkan beberapa segi lain supaya ada gambaran lebih jelas.
Ada dua hal, sementara apa yang menjadi ancang-ancang penulisan ini. Pertama, pengembaraan tema seperti ini sesungguhnya membutuhkan analisa-analisa yang memperhatikan segi theologis, psikologis, dan faktor-faktor kesejahteraan tertentu yang multi-konteks.

Namun, dengan tulisan ini saya membayangkan sedang omong-omong karib saja dengan Bapak-Ibu, saudara dan sahabat-sahabat di rumah-rumah kampung, di daerah-daerah, desa-desa. Kita ngobrol sederhana saja. Kedua, tema ini amat sensitif untuk situasi politik keagamaan di negeri kita, dan (harus kita akui) ia lebih sensitif lagi di kalangan ummat islam, ya kita-kita ini. Trauma G.30.S – lepas dari bagaimana sesungguhnya data – kesejarahannya – telah menumbuhkan dikalangan masyarakat suatu ketidaksenangan dengan kadar amat tinggi terhadap atheisme.

Ini merupakan tema tersendiri, tetapi yang terpenting dengan tulisan ini saya berada jauh dari menyarankan suatu kebencian. Anak-anak selalu dilahirkan hanya oleh ibunya, artinya setiap gejala selalu merupakan tahap proses dari gejala sebelumnya. Ibu yang baik akan memperlakukan setiap gejala, seberbahaya apapun, dengan penglihatan yang jernih, hati penuh kesabaran, dan cinta kasih. Kebijaksanaan tak pernah kehabisan alasan untuk tak bersyukur : Maha Suci Allah bahwa mereka sempat membenci-Nya dan lantas tak mempercayai-Nya, bahkan tak percaya bahwa Ia ada. Kebencian, ketidakpercayaan dan negasi, adalah satu bentuk hubungan, suatu model mu’amalah ma’allah juga, meskipun arah prinsipnya bisa seakan-akan menggambarkan keadaan putus, serta meskipun si pelakunya sendiri tak pernah mengakui bahwa itu suatu bentuk perhubungan dengan Allah. Tentu saja, demikian absolutnya Allah, sehingga baik orang yang mengakui-Nya, tak pernah sedetik pun pernah terlepas dari kaitan dengan-Nya, meskipun seseorang bisa tak tahu dan tak mengenal keterkaitan itu. Jadi, demikian Abdurrahman Wahid, pernah berkata, jangan dimaki kalau mereka membenci dan tak mempoercayai Tuhan, siapa tahu itu adalah proses menuju cinta yang mutlak mempercayai-Nya, lebih dari sebelumnya.

Alhasil, kita diuji.

Mari kita lihat petanya. Harus dibedakan antara tak percaya kepada Tuhan dengan tak percaya adanya Tuhan. Yang pertama dalam keadaan di mana seseorang tetap (masih) percaya akan adanya Tuhan, tapi tak mempercayai, misalnya, peranan Tuhan , janji-janji-Nya, juga sifat-sifat-Nya, dalam kenyataan hidup manusia. Ini barangkali merupakan semacam rasa sakit hati kesejarahan, muncullah rasa putus asa bahwa problematika ruwet kehidupan ummat manusia ini akan bisa diatasi. Di kalangan mahasiswa yang ilmu pengetahuannya luwes itu, umpamanya, masih ada pertanyaan yang sangat permukaan tentang keadilan Tuhan : kalau memang Tuhan itu adil, kenapa ada kelompok masyarakat miskin dan ada yang kaya, juga kenapa semua itu dibiarkan terus.

Kita semua mengerti ini adalah pemahaman yang sangat belum memadai tentang hakekat dan nilai keadilan, apalagi nilai ketuhanan itu sendiri . Tetapi yang penting kecendrungan ini bisa mengarah kepada sikap yang kedua yakni tak percaya adanya Tuhan.

Namun sebelum membicarakan itu, kita sebut dulu kecenderungan lain yakni tak percaya pada Tuhan, ini bisa sekedar ketidak kepercayaan bahwa agama dapat memecahkan problem kehidupan manusia, misalnya soal kemiskinan, tapi juga ketidak percayaan bahwa agama itu datanag dari tuhan, dari golongan ini agama tak lebih dari rekayasa manusia biasa, bikin- bikinan orang yang menyebut dirinya sebagai nabi atau rosul. Tetapi tidak selaludengan nada negati. Bisa saja dikatakan bahwa agama itu dibikin sebagai alat untuk melawan sesuatu  umpamanya melawan perbudakan dan kebodohan di zaman Muhammad, melawan penindasan dizaman Isa, dan melawan diskriminasi rasial dizaman Musa . Namun demikian, golongan ini pada umumnya tidak percaya bahwa agama bisa merupakan  alternatif jalan keluar bagi masalah-masalah yang mendera dalam sejarah. Katakanlah ia bukan sebagai ideologi sosialisme yang tampil mengantiasifasi  kapitalisme, orang-orang ini dengan itikad baik, biasa mengatakan “Agama tak apa-apa ada, asal dia membela kebenaran dan kebaikan”.

Ini gambaran globalnya. Alhasil ada orang yang tak percaya kemampuan agama dan peranan Tuhan.
Ada orang yang tak percaya kepada keabsyahan keagamaan seperti yang dianut oleh kaum beragama, serta tak percaya kepada adanya Tuhan.
Ada orang yang tak percaya kepada peranan agama tapi berharap kepada fungsi Tuhan.
Ada juga orang yang tak percaya kepada adanya Tuhan namun tetapi memiliki kepercayaan terhadap nilai-nilai agama. Yang tak ada tentu saja adalah orang yang tak percaya orang yang tak percaya dengan adanya Tuhan, tetapi percaya kepada fungsi Tuhan. Ia tak berharap terhadap sesuatu yang dianggapnya tidak ada. Namun jangan lupa bahwa ada orang yang tak percaya kepada tuhan maupun tentang keabsyahan agam, tetapi ia menaruh kepercayaan terhadap orang -orang beragama. Ia, di dalam dirinya, menilai tatanan nilai tersendiri. Sebutkan saja contoh, ia berpegang kepada nilai demokrasi : bisa saja ia jumpai potensi nilai tersebut didalam diri orang lain yang “kebetulan” menganut suatu agama, maka ia percaya kepada agama itu: dan bahwa nilai yang disebut demokrasi itu sesungguhnya bersumber dari Tuhan dan agama, adalah semata-mata urusan si pemeluk agama itu.

Demikian, ada seribu sisi mutiara dalam batin manusia. Ada berbagai kemungkinan dan kenyataan, yang tak dapat kita lihat hanya sebagai warna hitam dan putih belaka.

Sumber : Artikel Seseorang Yang aku tidak Tahu .. thanks

 

Iklan

Desember 22, 2006 - Posted by | Artikel Bebas

4 Komentar »

  1. Tuhan itu ada dan akan selalu ada.
    Maha suci Dia, segala puji bagiNya.
    Dia mengabulkan semua pinta dengan melihat berbagai faktor yang ada,
    dan semua orang dewasa mengetahui,..
    bahwa ada dua pilihan di antara segala sesuatu.

    Komentar oleh nurmandityo | Desember 30, 2006 | Balas

  2. Karena kita terbatas, maka kita pantas disebut manusia.
    Tuhan tidak terbatas…Dia selalu ada dalam ketiadaan NYA.

    Komentar oleh ola | Januari 9, 2007 | Balas

  3. Pikiran itu tidak terbatas,
    yang membatasi adalah apa yang anda yakini
    Maka..
    yakinlah pada Rabb-mu, yang berkuasa tanpa batas

    Komentar oleh Zion an. Eric N | Januari 9, 2007 | Balas

  4. kalu berbicara tentang Tuhan kita jangan Lepas dari Historis Lahirnya alam raya serta proses terjadinya mahluk hidup,serta proses kelanjutannya sampai hari ini (mungkin bila menarik akan kita diskusikan Kemudian)
    Malah dalam surat Yunus 99 dan 100 dipertegas: Jika Tuhan menghendaki, niscaya beriman sekalian orang di bumi. Adakah engkau memaksa manusia supaya mereka beriman? Tiadalah seorang beriman, melainkan dengan izin Allah. Sedang dalam surat Al Baqarah 256 dikatakan: tidak ada paksaan dalam agama.

    jadi tidak ada larqangan apapun dalam memeluk ajaran apapun sampai tidak memilih agama apapun karena itu adalah hak seseorang dalam memilih dan menentukan Agamanyamaupun atheis(tidak mempercayai tuhan)
    toh banyak manusia yang mengaku bertuhan ternyata pikiran dan perbuatannya melebihi IBLIS ataupun Binatang.

    bicara tentang kemiskinan dan kaya sebenarnya tidak bisa dihubungkan dengan tuhan, karena kemiskinan dan kaya bukanlah takhdir akan tetapi adanya sebuah sistem Perekonomian yang dihalalkan untuk memperkaya diri(menumpuk-numpuk harta), sebuah sistem yang berbahaya dari sistem KOMUNIS yang selama ini ditakuti oleh Negara ini.

    jadi saya juga mengajak anda agar berfikir Objektif dalam menilai apapun dalam kenyataan hidup ini dan janganlah menilai sesuatu sepotong-sepotong karena dapat mengakibatkan kegilaan/pembenaran-pembenaran yang akan anda lakukan.

    jadi saya hanya mengingatkan hakekatnya Tuhan itu ada karena adanya manusia. bila manusia tidak ada maka ? maka?
    hakekatnya TUhan menciptakan manusia menurut wujudnya
    akan tetapi pernah dibantah oleh Feurbach dengan dialektika terbalik yang mengatakan Manusia menciptakan Tuhan Menurut Wujudnya.
    akhirnya dihukum mati karena sistem Feodal [pada Zamannya.
    jadi menurut saya kesimpulannya adalah jangan pernah memaksakan AGAMA karena agama adalah keyakinan antara manusia yang satu dengan Tuhannya secara Vertikal(dalam bentuk Pengabdian), yang penting saat ini adalah bagai mana mempraktekan nilai-nilai tersebut menuju masyarakat tanpa kelas (tauhid) dengan bersama-sama memerangi KAPITALISME(sistem yang mengakumulasikan Modal untuk menumpuk-numpuk harta dengan memiskinkan/menyengsarakan rakyat)
    kita lihat Sbb:
    Masyarakat yang berkeadilan sosial, masyarakat sosialis adalah masyarakat transisi menuju masyarakat Tauhidi, “umat yang satu” seperti yang dikemukakan surat Al Mukminun ayat 52.

    Umat yang satu, yang dimaksud surat Al Mukminun ayat 52 ini, tentu umat yang tidak terpecah lagi dalam kaum-kaum tertindas dan miskin (mustadafhin atau dhuafa) dan kaum mustakbirin (para tiran, angkuh dan kaya). Tentu bukan umat yang satu bila sementara lain hidup dengan melimpah-ruah, sedang sementara hidup serba kekurangan. Umat yang satu, baru ada, bila setiap orang mendapat menurut kebutuhannya, bukan lagi menurut prestasi kerjanya, apalagi mendapat menurut “kontrak kerja” seperti yang berlaku dalam sistem kapitalis.

    kata maaf saya katakan terakhir dari komentar saya!!!

    Komentar oleh ArlaN | April 7, 2008 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: