Yunianto Tri Atmojo

Let\’s change for the better future!

Diabetes juga Mengancam Anak – anak

Selama ini, banyak orang masih memercayai diabetes identik penyakit usia lanjut (setidaknya setengah umur) dan penyakit keturunan. Padahal, belakangan ini DM menyerang siapa saja, tidak memandang usia dan status ekonomi. “Perubahan gaya hidup merupakan salah satu faktor penyubur timbulnya penyakit diabetes di Indonesia, dan banyak negara Asia lainnya, kata dr. Bambang Tridjaja, SpA(K), spesialis endokrinologi dan ketua Ikatan Keluarga Penyandang Diabetes Anak dan Remaja (Ikadar).

DUA TIPE DIABETES
Diabetes melitus adalah kondisi ketika tubuh tak bisa mengendalikan kadar gula dalam darah (glukosa), yang normalnya 60-120 mg/dl. Glukosa merupakan hasil penyerapan makanan oleh tubuh, yang kemudian menjadi sumber energi. Tapi, pada penderita DM, kadar glukosa ini terus meningkat sehingga terjadi penumpukan.

Mengapa pengaturan glukosa ini tak terkendali? Penyebabnya, karena terjadi gangguan pada kelenjar pankreas. Pada pankreas terdapat sel kecil khusus yang dinamakan sel beta atau dikenal juga sebagai ‘pulau-pulau Langerhans’, yang menghasilkan hormon insulin. Hormon inilah yang menjadi kunci pengatur pengiriman glukosa ke seluruh tubuh.

Jika dilihat dari ketergantungannya pada insulin, ada dua jenis DM, yakni:
Tipe I (insulin-dependent)
Seseorang dikatakan menderita DM Tipe I (Insulin-Dependent Diabetes Mellitus), jika tubuh memerlukan pasokan insulin dari luar sepenuhnya. Penderita DM Tipe I ini, selain sudah memiliki bakat (faktor genetis), biasanya juga karena ada faktor pencetusnya. Namun, faktor pencetus ini hingga kini belum diketahui pasti.

DM Tipe I muncul tiba-tiba pada masa anak-anak (di bawah usia 20 tahun), dengan gejala, antara lain, berat badan menurun tanpa sebab jelas, kelelahan terus-menerus, sering buang air kecil dan sering merasa lapar dan haus.

Tipe II (non insulin-dependent)
DM tipe II (Non-Insulin Dependent Diabetes Mellitus) terjadi jika pasokan insulin dari pankreas tidak mencukupi, atau sel lemak dan otot tubuh kebal terhadap insulin. Akibatnya, terjadi gangguan pengiriman glukosa ke seluruh sel tubuh. Faktor kelebihan berat badan dan kurang olahraga ditengarai sebagai penyebab terjadinya DM Tipe II.

Umumnya, penderita tak menyadari datangnya penyakit ini. Apalagi, DM Tipe II nyaris tanpa gejala. Gejala awalnya paling-paling berupa keluhan ringan, seperti sering kesemutan atau sakit kepala. Selain itu, selama ini orang sering menganggap bahwa DM Tipe II hanya diderita orang-orang lanjut usia. Padahal, kini sudah terbukti, penyakit ini sudah menghinggapi kalangan muda, bahkan anak-anak!

JAGA ANAK-ANAK ANDA
Obesitas atau kegemukan dan perubahan gaya hidup, menurut dr. Bambang, memang jadi problem tersendiri. Empat dari lima penderita DM Tipe II ternyata memiliki kelebihan berat badan.

Pada anak-anak, kasus obesitas mengakibatkan diabetes belum banyak terdata. Tapi, penelitian FKUI dan FK Universitas Padjadjaran (2001), terhadap kalangan remaja (SMP dan SMU) yang digolongkan obesitas di Bandung dan Bogor bisa jadi cerminan. Penelitian ini menunjukkan, sekitar 8% dari mereka yang kelebihan berat badan itu mengalami gangguan toleansi glukosa. “Keadaan ini belum menunjukkan gejala DM. Tapi, tinggal selangkah lagi menuju DM, jika tidak memperbaiki gaya hidup,” ujar dr. Bambang.

Apalagi, penelitian di luar negeri menunjukkan, 80% anak remaja yang obesitas cenderung menjadi orang dewasa yang obesitas pula. Sedangkan pada anak-anak penderita obesitas, sekitar 30%-40%-nya menjelma jadi orang dewasa yang juga obesitas. Akibatnya, diabetes pun makin mudah datang.

Hingga saat ini, tambah Bambang, obesitas yang mengakibatkan diabetes pada anak-anak memang belum banyak terjadi di Indonesia. Tapi, bisa jadi akibat kasusnya tidak terdata.
Nah, agar anak Anda terhindar dari obesitas yang mengakibatkan diabetes, berikut ini beberapa saran mencegahnya:

Kembali pada menu 4 sehat 5 sempurna.

Berikan anak-anak bekal sekolah yang sehat.
Ajarkan menghitung kalori sejak dini. Hingga usia 12 tahun, bisa dipakai rumus: 1.000 + (umur x 100) kalori. Jadi, jika usianya 10 tahun, kebutuhan kalorinya 1.000+ (10×100)=1.100 kalori. Komposisi lemak tidak boleh dari 30% dari total kalori, karbohidrat 50%-60%, dan sisanya protein dan vitamin.
Beri pengetahuan kandungan nutrisi kepada anak-anak, terutama fast food.

Terapkan rutin berolahraga. Misalnya, jalan pagi bersama.

Sediakan camilan bergizi.
Biasakan makan teratur, yaitu tiga kali makan besar (pagi, siang, dan malam), dan di antaranya (pukul 10 dan pukul 15), makan kecil. Untuk anak-anak, makan kecil bisa es krim, roti, atau buah.
Jadilah role model bagi anak-anak. Tak mungkin mereka bersedia bergaya hidup sehat, jika ayah-ibunya berlaku sebaliknya.

September 27, 2006 - Posted by | Tips and Tricks

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: